Selasa, 11 Mei 2010

SILVOFISHERY

SILVOFISHERY
Suatu Model Pelestarian Wilayah Pesisir
Oleh : L. Apriyanto SP, SP
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ekosistem mangrove sebagai suatu type ekosistem yang terdapat di sepanjang garis pantai dan atau muara sungai yang digenangi air secara berkala, memiliki beragam fungsi yang tidak mungkin tergantikan oleh ekosistem jenis tanaman yang lain. Akan tetapi rendahnya tingkat pendidikan dan kesejahteraan masyarakat desa pantai menjadi salah satu kendala dalam upaya pelestarian ekosistem mangrove. Sehingga pelaksanaan upaya pelestarian ekosistem mangrove dan rehabilitasinya perlu dilaksanakan dengan memperhatikan kebutuhan petani tambak sebagai pemilik lahan yang menjadi sasaran upaya rehabilitasi pantai.
Wilayah pantai Jawa Tengah yang memiliki panjang pantai + 652 km, seharusnya memiliki jalur hijau seluas 13.040 Ha, akan tetapi yang secara teknis memenuhi persyaratan untuk ditanami tanaman bakau hanya 7.970 Ha, sehingga upaya rehabilitasi tanaman bakau lebih difokuskan pada areal tersebut.


B. Maksud dan Tujuan
Pembuatan Areal Model Budidaya Tanaman Bakau dimaksudkan agar dapat dimanfaatkan sebagai sarana percontohan bagi masyarakat sekitar areal model pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya tentang bagaimana suatu ekosistem hutan bakau terbentuk.
Adapun tujuannya adalah agar dapat etrbentuk jalur hijau perlindungan pantai yang selain berfungsi lindung juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa pantai.
II. AREAL MODEL EMPANG PARIT
A. Pembuatan
1. Pola empang parit
Terdapat tiga macam pola model empang parit, yaitu :
a. Pola empang parit tradisional
Pola ini lahan mangrove dan empang berada dalam satu hamparan dan pengellaan air diatur dengan satu buah pintu air. (gambar 1)
Keuntungan dari penerapan pola ini adalah bentuknya yang sedrhana, sehingga biaya rekonstruksinya realtif lebih murah. Kelemahannya, karean letak hutan dan empang berada dalam satu hamparan, kemungkinan hama pengganggu ikan cukup tinggi, serasah dan dedaunan yang jatuh keempang dalam jumlah berlebihan dapat mengganggu kehidupan dan pertumbuhan ikan. Fungsi hutan sebagai penyedia pakan alami tak terpenuhi dengan baik karena pertumbuhan ganggang dan plankton kurang, akibat sinar matahari tak dapat mencapai permukaan empang. Tetapi hal ini bisa diatasi dengan dilakukan penjarangan atau pengaturan jarak tanam yang lebih lebar.
b. Pola empang parit yang disempurnakan
Pola ini merupakan pengembangan dari pola empang parit tradisional, perbedaannya terletak pada jumlah pintu air yaitu 2 buah untuk pemasukan dan 1 buah untuk pengeluaran, serta terdapatnya saluran air tersendiri untuk hutan. (gambar 2)
Pola ini biaya rekonstruksi khususnya untuk pembuatan pematang cukup besar, untuk itu pengerjaannya dapat dilakukan secara bertahap. Produktivitas empang lebih optimal, karena permasalahan seperti pola tradisional dapat dieliminasi. Hambatannya, lahan pemeliharaan ikan kurang terintegrasi dan luasnya terbatas.

c. Pola Komplangan
Pada pola komplangan, areal pemeliharaan ikan dengan lahan hutan bakau terpisah oleh pematang dan dilengkapi dengan 2 buah pintu air masing-masing untuk pemasukan dan pengeluaran air. Pada lahan hutan terdapat pintu air pasang surut bebas. (gambar 3)
Keuntungan dari pola ini adalah bentuknya yang lebih terintegrasi, cukup memperoleh sinar matahari sehigga dapat digunakan untuk budidaya semi intensif.

2. Konstruksi
a. Pematang
Merupakan bagian paling luar dari tambak yang berfungsi sebagai pelindung terhadap banjir dan gelombang laut, pembatas antar tambak dan antar petakan serta sebagai penahan air di dalam tambak. Oleh karena itu pematang harus kuat, kokoh, tidak bocor, sehingga menjamin keselamatan aspek produksi.
Torres (1990) memberikan formula penentuan tinggi pematang sebagai berikut :
[ (WL - GS) + PL + FB ]
H = ----------------------------
(1 % - S)
H = tinggi pematang (utama, sekunder, tersier)
WL = ketinggian air; untuk pematang utama berdasarkan pasang naik astronomi, untuk pematang sekunder dan tersier berdasarkan ketinggian air yang diinginkan.
GS = tinggi permukaan tanah dari sero darum
FL = tinggi air maksimum pada saat banjir (pematang utama), tinggi air maksimum pada saat hujan dalam 24 jam (sekunder, tersier)
FB = imbuhan 0,6 - 1,0 m (pematang utama) 0,3 m (pematang sekunder, tersier)
S = penyusutan sekitar 20 - 25 %
b. Pintu air
mengeluarkan air ke dan dari petak tambak. Tinggi dan panjangnya disesuaikan dengan tinggi dan lebar pematang. Lebarnya disesuaikan dengan luas petakan, disarankan minimal 70 - 80 cm, maksimal 100 cm untuk memudahkan pengoperasian. Pintu air harus dilengkapi dengan saringan terbuat dari kere bambu dilapis nylon net, dimaksudkan untuk mencegah lolosnya ikan peliharaan.
c. Pelataran
Pada sistem wanamina terdapat dua unit pelataran, yaitu untuk pemeliharaan ikan dan untuk penanaman mangrove. Pelataran untuk pemeliharaan ikan harus rata, terbuka sehingga dapat menerima sinar matahari penuh, tidak poreous dan dibuat landai ke arah pintu pembuangan dengan kemiringan 0,1 - 0,2 %.
d. Caren
Caren berada di antara tepi pematang bagian dalam dan pelataran untuk ikan, yang berfungsi untuk tempat berlindungnya ikan dan sebagai tempat penangkapa. Caren dibuat dengan kedalaman 30 - 40 cm dan luasnya 20 - 60 % dari luas pelataran.
e. Saluran air
Saluran yang menghubungkan unit tambak dengan laut dalam hal pemasukan dan pembuangan air. Agar dapat berfungsi dengan baik saluran harus lurus, dalam dan cukup lebar. Saluran selebar 3 m dengan talut 1 : 1 dapat mengairi tambak seluas 10 - 15 Ha.
3. Penanaman Bakau
Penanaman dengan mempergunakan benih/biji dapat langsung dilakukan apabila benih/biji cukup tersedia. Benih yang telah diseleksi ditanam dengan cara ditugal sedlam kurang lebih sepertiga bagian dari panjang buah, denganbakal kecambah menghadap ke atas. Benih diusahakan berdiri tegak dan tertanam kuat dalam lumpur. Jarak tanam 2 x 1 m atau 3 x 2 m.
4. Penebaran benih ikan
Ciri benih yang baik adalah :
- Moraltilas selama pengankgutan rendah
- Murni satu jenis
- Tidak cacat fisik
- Bebas penyakit
- Reaksi terhadap rangsangan fisik cepat
Penebaran benih ikan dilakukan setelah :
a. persiapan dasar tambak/empang parit
b. pengeringan dasar tambak
c. pengapuran
d. penumbuhan pakan alami
e. pengaturan air dan pembasmian hama
Penaburan dilakukan dengan padat penebaran setiap hektarnya 60.000 ekor/ha. Sedang waktu penebaran pada saat temperatur air relatif rendah, yaitu pada pagi hari atau pada sore hari setelahmatahari terbenam.
5. Pemeliharaan
a. Pemeliharaan tanggul
Pemeliharaan dilakukan terhadap tanggul tambak yang mengalami pengikisan dengan melakukan :
- menimbun kembali bagian yang terkena arosi dengan tanah yang diambil dari caren pada waktu pemeliharaan caren setelah panen
- melengkapi lereng tanggul dengan anyaman bambu bila anggaran biaya memungkinkan
- membunuh/memberantas hama kepiting
b. Pemeliharaan caren
Pemeliharaan caren cukup dilkaukan sekali dalam satu periode pemeliharaan ikan yaitu pada waktu selesai panen, dengan jalan mengeruk hasil sedimentasi yang berasal dari tanggul maupun air saluran masuk. Hasil pengerukan ditimbun pada tanggul yang tererosi.
c. Pemeliharaan tanaman
Pemeliharaan tanaman adalah suatu upaya untuk menjaga dan memelihara tanaman bakau yang telah ditanam. Pemeliharaan tanaman meliputi kegiatan penyulaman, penjarangan dan pengendlaian hama.
d. Pemeliharaan ikan dan panen
Untuk keberhasilan usaha empang parit, maka selama pemeliharaan perlu dilakukan perawatan secara baik. Perawatan tersebut meliputi pengaturan air, pemupukan susulan serta pemberian pakan tambahan.
6. Panen
Setelah ikan yang dipelihara mencapai ukuran yang sesuai untuk dikonsumsi, maka segera dilakukan panen. Panen dapat dilakukan secara bertahap (selektif), akan tetapi pada umumnya dilakukan panen total.
Pemanenan dilakukan dengan mengeluarkan air melalui saluran pembuangan atau dibantu dengan pompa air secara perlahan sampai air yang tertinggal hanya di caren saja. Pemanenan dapat dilakukan dengan menggunakan jaring yang ditarik (diseret0 sepanjang caren sampai udang atau ikan dikumpulkan pada satu tempat tertentu yang luasnya terbatas (sempit) baru dilakukan penangkapan dengan alat tenggok/jala.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar